Long Distance Marriage
Tertarik dengan bahasan Pernikahan Jarak Jauh (PJJ/LDM) eh ketemu artikel sejenis di majalah UMMI (Februari 2006). Berikut saya sarikan, sekalian menjadi bekal jika suatu waktu saya berpisah (lagi) dengan suami. Semoga bermanfaat.
Evi Elviati Psi. psikolog pada Essa Consulting berpendapat bahwa pernikahan semacam ini harus benar-benar dipertimbangkan baik buruknya. Bagaimanapun setiap pernikahan memerlukan kedekatan fisik, apalagi di awal pernikahan di mana penyesuaian demi penyesuaian harus dijalani. Juga pentingnya dukungan fisik dan psikis bagi pasutri. Belum lagi soal kebutuhan biologis. Bagaimana menyalurkannya ?
Bila perpisahan sebentar saja, kebanyakan pasangan mampu menghadapinya. Namun jika terjadi dalam jangka waktu panjang, diperlukan strategi khusus, misalnya ada pertemuan rutin, atau jika memungkinkan, membawa pasangan sekalian. Evi menegaskan dengan cara apapun, berkumpul itu jauh lebih baik. Namun jika LDM ini mesti terjadi, beberapa hal mesti diperhatikan :
1. Komitmen
Setiap perkawinan didasarkan komitmen suci. Dengan komitmen yang berimplikasi pada kebahagiaan di dunia dan akahirat (ever after), tentu lembaga perkawinan bukan sesuatu yang dapat dianggap enteng. Dalam keterpisahan fisik sekalipun, suami istri wajib menjaga keutuhan rumah tangganya, SESULIT apapun kondisinya.
2. Komunikasi
Komunikasi adalah kunci untuk memelihara hubungan tersebut. Berikut beberapa tips untuk menjalankannya :
- Gunakan beragam fasilitas komunikasi (telpon, sms, skype, chatting, email, dsb). Jika memungkinkan, aturlah strategi berbasis harian, entah sekedar sms/email singkat.
- Kirimkan hadiah-hadiah kecil untuk menunjukkan perhatian anda.
- Lakukan beberapa ‘kontak kejutan’ dalam waktu-waktu unik sekedar menyatakan cinta, tapi jangan terlalu sering.
- Kirimkan foto anda dan anak-anak (atau rumah) secara teratur agar pasangan tahu perubahan demi perubahan yang terjadi pada anda dan anak-anak.
- Buatlah catatan harian selama perpisahan ini, tentang aktivitas dan perasaan anda (karena mungkin tak cukup sarana komunikasi untuk menyampaikan semuanya) kemudian biarkan pasangan anda membacanya saat pertemuan nanti.
- Jangan lupakan humor, karena hubungan anda bisa tetap segar karenanya.
3. Kepercayaan
Sedikit saja ada rasa sangsi atau ketidakpercayaan maka semua bentuk komunikasi akan gagal, karena setiap hal yang dikomunikasikan terus dipertanyakan. Ketidakpercayaan juga menguras energi dan emosi, juga ‘kantong’ karena seringnya menelpon/sms untuk menanyakannya. Secara tidak sadar orang yang tidak percaya pada pasangan akan selalu berusaha menghubunginya dan jadi bersikap posesif.
4. Kejujuran
Selalulah bersikap jujur dan terbuka soal diri dan perasaan pada pasangan. Kejujuran akan meningkatkan rasa saling pengertian dan rasa saling mendukung satu sama lain. Pasangan yang terpisah biasanya terjebak pada soal :
- Berpura-pura semua baik-baik saja, padahal sebenarnya belum tentu. Bisa jadi ia tengah kesepian namun tak mengakuinya karena takut pasangan tak mau mengerti, ternyata bisa saja anda berdua sedang kesepian.
- Beranggapan perpisahan ini lebih mudah bagi pasangan ketimbang bagi anda. Padahal tak ada yang menganggap perpisahan itu mudah. Anda sebenarnya butuh saling menguatkan, maka jujur sajalah. (Asmawati)
___________
Dari artikel di atas, saya ingin mengomentari mengenai ketidakpercayaan dan konflik. Ketidakpercayaan dan konflik malah kadang menyebabkan pasangan yang jauh bertambah ‘jauh’, saling berhenti menghubungi.
Sebal, kecewa, dan marah, adalah contoh bentuk-bentuk penyaluran emosi. Marah tidaklah dilarang, apalagi kalau dikarenakan alasan yang tepat, di tempat yang tepat, pada waktu/momen yang tepat, kepada orang yang tepat, dan dengan kadar yang proporsional. Ada kalanya diperlukan jeda untuk lebih memahami masalahnya, namun tidak boleh dibiarkan begitu saja.
Steven Covey di buku ‘Seven Habit for Highly Efective People’ mencantumkan salah satu kriteria bagi orang yang efektif, yaitu seek first to understand, than to be understood, pahami orang lain terlebih dahulu, sebelum meminta orang lain memahami anda. Ada kalanya kita (apalagi sebagai istri) perlu lebih berlapang dada, pemaaf, sabar atau mengalah. Lanjutkan dan pertahankan ikatan pernikahan dengan langkah-langkah yang lebih baik. Sifat-sifat seperti ini sejatinya dapat melembutkan hati para suami dan mencegah konflik yang lebih besar.
Berikut beberapa kisah Inspiring dari Group ITB Motherhood (mohon maaf saya edit agar lebih ringkas dan jelas) :
- Saya masih kuliah di kota B, suami di M, beda 180 km. Suami ke Bandung setiap weekend (PJKA=Pulang Jumat Kembali Ahad) trus saya ke M sebulan sekali… alhamdulillah enjoy selama saling mengerti. Kerasa banget perjuangannya waktu hamil sambil kuliah; pulang kampus sendirian di rumah, ga ada AstRT, suami jauh, rumah bocor, banjir, proposal riset belom kelar.. kocak deh kalo inget waktu itu…. ngidam sendiri, ngladenin sendiri…. Inget waktu mau Pre Concert di Jkt, saya hamil 6 bulan dan harus naik bus rame2 ke Jakarta tanpa suami…. Senior saya sampe marah2 karena khawatir, tapi alhamdulillah ga ada apa2 selain konser yang sakses. Alhamdulillah dengan LDM ini jadi lebih terasa kangen suami (heu euh kerasaaaa banget kaya ditampol) dan punya ruang untuk mengaktualisasikan diri. Sekali lagi: SEMANGAD BUIBUUUUUUU!!!!! BERJUAAAAAAAAAANG
- Saya juga dr awal pacaran sampe skrg (kurang lebih 6 thn) long distance terus nih. Suami kerja di Maluku. Alhamdulillah msh ada cuti 2 minggu stlh ditinggal 4 minggu. Sedihnya kalau ngebayangin jam kerjanya. Jam 5 pagi di sana brarti di sini jam 3 subuh. Selesai jam 6 sore. sampe kamarnya langsung tidur. Kadang ga sempet telpon malam. Terimakasih pada skype yg bikin A*** (anak saya) tetap bisa ketemu ayahnya meskipun disela-sela jam istirahat kantornya. Huhuhu.. dan belom tah kapan kami bs kumpul tiap hari. Ko jd sedih ya.. Ayo saling menguatkan yu.. hehe.. kuatkan saya mksdnya :)
- Dukanya, kangeeen
apalagi br nikah, habis itu hamil pula, punya bayi diurus sendiri, masih kuliah, sedang TA.. komplit pokoknya! Tapi enaknyata mnrt Sy, saat awal menikah dan tidak pacaran masih belum terlalu kenal sifat asli masing2, masih sering salah paham. Nah karena berjauhan jadi malah jarang salah paham. Waktu ketemu lebih sering seru-seruan aja. Satu lg, Saya menikah di semester 5, semester 6 punya bayi, semester 7 TA1, lalu itu semester 8 TA2. Jadi sibuk banget, untung suami jauh, so saya sibuk di lima hari seminggu tak ada yg protes, hehehe
So, sepertinya, jika waktu kita banyak tersita oleh kegiatan positif, tidak terlalu terasa kok perpisahannya. Semangat aja, demi masa depan yang lebih baik. Jika saatnya memungkinkan berkumpul, Insyaallah bakal enaaaak banget
- Saya sebulan setelah menikah berpisah sama suami, ditinggal ke Belanda. Baru bisa menyusul setelah 9 bulan berikutnya. Memang berat sih.. tapi kalo dari pengalaman saya, kesibukan dan komunikasi yang tidak terlalu sering, lumayan membantu. Kalo sering komunikasi, chatting, telp, sms dll, malah jadi tambah kepikiran
.
Dan masih banyak lagi kisah LDM yang tidak cukup tertuliskan di sini. Jika mereka bisa, yakin deh kalau anda, saya (nanti) juga pasti bisa! Tetap semangat ya, terutama para LDM Moms.





Recent Comments