Hamil dan Melahirkan di Belanda

Melahirkan di Negeri Kincir Angin

Nama   : Sri Aktaviyani

Alumni Biologi ITB angkatan 2001

Awal Kehamilan

 

Saat itu aku sedang menemani suami research visit di Tarragona, Spanyol selama 5 pekan. Aku merasa sepertinya ada tanda-tanda kehamilan. Dengan berbekal bahasa Spanyol dari google translate, akhirnya aku dan suami mendatangi apotek terdekat dari hotel kami untuk membeli alat test kehamilan. Setelah dites, ternyata dua strip, alias positif. Kami mulai berpikir, apa yang harus dilakukan, padahal kami masih harus tinggal di Spanyol untuk sebulan ke depan, sebelum pulang kembali ke Belanda.

 

Akhirnya kami memutuskan untuk datang ke rumah sakit di Tarragona secepatnya, untuk memastikan bahwa kandunganku baik-baik saja dan tentu saja ingin mendapatkan beberapa nasihat tentang kehamilan dari dokter, maklumlah anak pertama dan jauh dari keluarga.

 

Sesampainya di rumah sakit, kami mendatangi resepsionis, namun tanpa disangka, kami tidak dilayani karena kami tidak bisa berbahasa Spanyol, dan mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Setelah sekian lama kami dibiarkan berdiri begitu saja, akhirnya salah seorang dari mereka menelpon dokter yang mungkin bisa berbahasa Inggris. Sesaat dokter tersebut keluar, dan menanyakan keperluan kami serta memastikan bahwa aku terdaftar di asuransi yang berlaku di luar Belanda. Kemudian, kami diambilkan nomor antrian, dan dipersilakan menunggu panggilan.

 

Setelah masuk ke ruang periksa, dokter yang bertugas lagi-lagi bertanya dengan bahasa Spanyol, oh no… Akhirnya kami pun menjelaskan dengan bahasa Inggris. Kemudian dia berkata, “Saya tidak bisa berbahasa Inggris” dengan terbata-bata, “Kamu tunggu dulu di luar ya..”  Kami mulai merasa kesal, sudah 2 jam kami menunggu tanpa hasil, hanya karena masalah bahasa. “Sabar..sabar..,” jeritku dalam hati. Tiba-tiba datang seorang pria berperawakan tinggi khas Belanda, menghampiri kami, dan menyapa “Goede middag”, rasanya bahagia sekali mendengar ada yang menyapa kami dengan Bahasa Belanda. Ternyata beliau adalah orang Belanda yg sudah bekerja puluhan tahun di Spanyol. Saat ini beliau ditugasi rumah sakit untuk mendampingi kami sebagai translator. Leganyaa mendengar kabar tersebut. Ternyata selama dua jam ini kami tidak ditelantarkan, namun mungkin pihak rumah sakit sedang berusaha mencari penerjemah untuk mendampingi kami.

 

Setelah selesai USG yang dilakukan oleh ginekolog, beliau menjelaskan, dibantu oleh penerjemah tentunya, bahwa perkiraan usia kandunganku saat ini lima minggu. Kemudian aku mendapatkan print out hasil pemeriksaan pertama tersebut untuk dibawa ke Belanda nanti. Sebelum pulang aku bertanya, adakah vitamin atau suplemen yang perlu dikonsumsi? Kemudian sang dokter hanya menyarankan untuk membeli asam folat di apotek, begitu saja tanpa obat-obatan lainnya. Kami pulang dari rumah sakit tanpa mengeluarkan uang sedikitpun. Pihak rumah sakit mengatakan, mereka yang akan mengurus langsung ke asuransi tempat aku terdaftar di Belanda.

 

Belakangan setelah sampai di Belanda, kami menerima tagihan untuk pemeriksaan tersebut, sebesar hampir 500 euro (sekitar 6 juta rupiah), wow.. besar sekali, tapi untungnya biaya tersebut ditanggung oleh asuransi.

 

Ngidam?

 

Sejak awal aku sudah menanamkan dalam pikiranku agar jangan sampai ngidam di negeri orang ini. Jangankan ngidam makanan yang aneh-aneh, mencari makanan yang halal saja sulit.. So.. jangan mempersulit diri sendiri, pikirku.

 

Namun, karena kami tinggal di hotel selama 5 pekan, yang tentunya tanpa dapur, kami sangat tergantung pada makanan yang dijual di restoran sekitar hotel. Jadilah menu kami sehari-hari serba sea food dan vegetarian. Mulai dari pizza dan pasta vegetarian, paella, tapas, tortilla, kebab, dan roti-roti prancis. Mulutku yang memang sudah mulai sering merasa enek, semakin tidak berselera akibat terlalu sering mengkonsumsi makanan-makanan yang plain semacam itu. Aku juga sudah mulai bosan dan enek dengan bau amisnya sea food. Tak mau menyerah, aku mencoba searching apakah ada restoran Asia atau Indonesia di sekitar sana. Akhirnya aku menemukan satu Restoran Betawi di pusat kota Barcelona. Alhamdulillah, perjalanan 40 menit dengan kereta akhirnya terbayar dengan lezatnya gado-gado, otak-otak, dan tahu isi di Restoran Betawi Barcelona, ditambah ramahnya sang pemilik restoran yang ternyata adalah orang Indonesia.

 

Lain halnya kalau ngidam di Belanda, sepertinya tidak masalah, asalkan dapat memenuhi satu syarat, yaitu mau bikin sendiri. Semua bahan dan rempah-rempah yang kita butuhkan untuk membuat masakan Indonesia, bisa didapatkan dengan mudah di Belanda. Jadilah masa-masa kehamilanku di Belanda menjadi masa bereksperimen bermacam-macam masakan nusantara. Ini namanya ngidam yang menambah skill.

 

Pemeriksaan Kehamilan Pertama

 

Begitu sampai di Belanda, aku segera menghubungi dokter keluarga (huis arts) untuk menyampaikan berita kehamilanku. Di luar dugaan, sang dokter bertanya, “Apakah kamu menghendaki kehamilan ini? Apakah kamu senang?” Ya begitulah, jika tidak senang, mereka akan menawarkan opsi untuk menggugurkan kandungan sebelum terlambat.

 

Setelah mengetahui bahwa aku ingin melanjutkan kehamilan ini, dokter tersebut merekomendasikan aku untuk mendaftarkan diri ke bidan (verloskundige) terdekat dengan rumah kami. Ginekolog hanya menangani pasien yang kehamilannya dianggap bermasalah, sisanya ditangani oleh bidan. Seorang teman pernah mencoba mendaftar di bidan yang cukup jauh dari rumahnya, ternyata ditolak, dan direkomendasikan untuk mendaftar di bidan  terdekat dengan rumahnya. Mekanisme pendaftarannya bisa lewat internet atau telepon. Setelah mendaftar, kita akan mendapat telepon dari klinik tersebut untuk penjadwalan pemeriksaan pertama.

 

Pertama kali datang, aku bertemu dengan bidan yang bernama Karin, wanita muda, cantik, ramah, mengenakan kaos oblong, jeans ketat, dan sepatu boot. Begitulah penampilan bidan dan dokter di sini, sangat casual, terkadang sulit membedakan mana yang dokter dan mana yang pasien. Satu kabar baik, para bidan di sini umumnya mampu berbahasa Inggris dengan baik, alhamdulillah. Karin menjelaskan bahwa aku akan ditangani oleh satu tim bidan yang terdiri dari enam orang. Merekalah yang akan memeriksaku secara bergantian selama masa kehamilan, dan salah satu dari mereka yang akan membantu proses bersalin nanti.

 

Setelah diminta mengisi data-data, ia memeriksa tekanan darah, dan membuatkan surat rekomendasi untuk tes darah di laboratorium. Beberapa hal yang dites antara lain Hb, gula darah, dan HIV. Selain itu aku juga ditawarkan untuk melakukan tes Down syndrome pada janin. Ketika kutanyakan apa tindakan yang akan dilakukan jika memang janin tersebut memiliki peluang Down syndrome yang besar, jawabannya adalah, “Kamu dapat memutuskan apakah akan meneruskan kehamilan ini atau tidak”. Karena aku tidak pernah berpikir untuk aborsi, maka aku memutuskan untuk tidak melakukan tes tersebut, selain karena biayanya yang mahal dan tidak ditanggung asuransi.

 

Selain itu aku juga dibuatkan jadwal untuk melakukan USG, karena tidak semua bidan bisa melakukan USG. Di sini, USG dilakukan tiga kali selama kehamilan, pada minggu ke-9, minggu ke-20 untuk memeriksa kelengkapan organ, dan minggu ke-36 untuk mengetahui posisi bayi. Selain itu tidak dilakukan USG kecuali jika ada kasus tertentu.

 

Aku juga sempat bertanya tentang makanan dan susu yang baik untuk diminum. Jawabannya sederhana, “Kamu makan saja makanan sehat seperti biasa, dan minum susu apa saja yang kamu suka, yang penting minum susu”. Tidak heran jika di sini sangat sulit menemukan susu khusus ibu hamil apalagi yang berbentuk susu bubuk. Susu yang dijual adalah susu UHT dengan berbagai rasa, untuk semua umur di atas 1 tahun. Aku juga dipesankan untuk menghindari makan daging-dagingan mentah, telur mentah, dan hati.

 

Setelah itu aku diperbolehkan pulang, tanpa resep obat dan tanpa membayar, karena sudah ditanggung oleh asuransi. Karin hanya berpesan agar aku tetap meminum asam folat hingga usia kehamilan 3 bulan, setelah itu aku boleh menghentikannya.

 

Di Ruang Periksa

 

Apa yang terjadi di ruang periksa? Standarnya hanyalah pemeriksaan tekanan darah dan detak jantung bayi. Sisanya aku hanya ditanya apakah ada keluhan atau hal yang ingin ditanyakan. Kalaupun ada sedikit keluhan, jawabannya tidak jauh-jauh dari that’s normal, perfect, nothing to worry. Kadang-kadang aku sering berpikir, apakah mereka yang terlalu nyantai, atau aku yang terlalu paranoid. Bahkan di akhir kehamilan, aku mengalami sakit punggung dan pinggang yang luar biasa hingga berjalan pun menjadi pincang. Seperti biasa respon dari sang bidan adalah, “Nothing we can do about it”, “Nanti kalau sudah melahirkan juga akan hilang sendiri,” begitulah kira-kira. Tidak puas dengan itu, aku kembali mengeluhkan hal yang sama minggu berikutnya. Akhirnya aku dirujuk ke fisioterapi. Sesampainya di sana, terapisnya mengatakan hal yang sama “Nothing we can do about it”. Oh no… Aku hanya diajarkan bagaimana cara naik dan turun dari tempat tidur untuk mengurangi sakitnya. Selain itu, untuk mengurangi rasa sakit juga bisa dengan cara mandi air hangat, dengan shower diarahkan ke punggung. Ya.. ini terasa sangat membantu..

 

Pada minggu ke-36, selain pemeriksaan rutin, juga dijadwalkan perbincangan tentang rencana kelahiran. Aku diminta mengisi form terkait dengan di mana tempat untuk melahirkan yang kuinginkan, apakah di rumah sakit atau di rumah. Kemudian apa yang ingin dilakukan untuk menahan rasa sakit selama proses kontraksi, bagaimana posisi melahirkan yang diinginkan, siapa saja orang yang diinginkan hadir di dalam ruang melahirkan, kemudian apakah ada permintaan khusus terkait dengan kultur kita yang mungkin tidak familiar bagi mereka.

 

Setiap kali selesai periksa, aku harus datang ke resepsionis untuk membuat jadwal kontrol bulan selanjutnya, lengkap dengan hari dan jam kedatangan. Sekali waktu aku pernah terlambat 15 menit, alhasil aku ditolak dan disuruh datang lagi keesokan harinya. Sejak saat itu aku lebih memilih datang lebih awal dan menunggu daripada terlambat. Pada masa awal kehamilan, pemeriksaan dilakukan sebulan sekali, kemudian naik menjadi tiga minggu sekali, dua minggu sekali, dan terakhir seminggu sekali.

 

 

Saat yang Mendebarkan Itu

 

Pada pukul tiga dini hari, aku merasa ada bunyi letusan kecil di perutku, diikuti air yang mengalir deras keluar. Ternyata, ketubanku pecah tepat dua hari sebelum due date. Suamiku menelpon nomor darurat yang diberikan oleh bidan, yang dipegang oleh salah seorang bidan yang sedang bertugas malam itu. Karena air ketuban yang keluar masih bersih, ia memintaku untuk menelpon kembali setelah interval kontraksi tiap 3-4 menit. Pukul 6 pagi suamiku menelpon kembali, dan menyatakan bahwa kontraksi sudah tiap 4 menit. Akhirnya sang bidan datang ke rumahku, kemudian ia memeriksa sejauh mana bukaannya, dan ternyata sudah 5 cm. Sesaat ia menelpon rumah sakit untuk memesan kamar bersalin untukku, kemudian kami berangkat ke rumah sakit dengan mobil dinasnya. Wah tampaknya setiap bidan di sini harus punya SIM ya.

 

Hingga pukul satu siang, bukaan baru mencapai 9 cm, sementara itu jarak kontraksi semakin jauh. Akhirnya bidan memutuskan untuk menyerahkanku kepada ginekolog. Aku menjalani proses induksi. Tetapi karena sudah kehabisan tenaga, akhirnya terpaksa di-vacuum, dan lahirlah putra kami yang pertama, Nabiel.

 

Ketika baru saja keluar, bayi mungil itu langsung diletakkan di atas dadaku. Seorang perawat memberikan gunting kepada suamiku untuk melakukan prosesi pemotongan plasenta. Mereka juga menawarkan untuk mengabadikan momen tersebut dalam foto. Setelah itu kami langsung ditanya nama bayi tersebut untuk melengkapi data administrasi. Jadi, kita sudah benar-benar harus siap nama sebelum melahirkan.

 

Setelah itu, Nabiel dibiarkan di dadaku kurang lebih satu jam. Kami dibiarkan menikmati kebersamaan yang mengharukan tersebut bertiga saja. Setelah aku selesai dijahit dan dibersihkan, kemudian seorang perawat meminta izin untuk membersihkan Nabiel, yang tempatnya juga di ruang tersebut. Ternyata Nabiel tidak dimandikan, hanya dibersihkan darah dikulitnya dengan lap, dan rambutnya dicuci. Setelah bersih, nabiel diletakkan di box bayi yang selalu berada di sebelah tempat tidurku.

 

Dalam kondisi normal, biasanya beberapa jam setelah melahirkan, ibu dan bayinya akan segera disuruh pulang ke rumah. Tampak kejam memang. Namun, karena aku kehilangan banyak darah, aku diperbolehkan menginap di rumah sakit hingga kondisiku lebih pulih.

 

Proses Awal Menyusui

 

Hari pertama ASI-ku belum keluar. Perawat di sana mengatakan bahwa itu hal biasa, dan bayi masih punya cadangan makanan, jadi tidak usah khawatir. Namun, pada malam harinya Nabiel banyak menangis, sehingga seorang perawat meminta izin kepadaku apakah boleh jika Nabiel diberikan susu formula dalam cup kecil, hanya beberapa mili saja. Karena tidak tega, akhirnya aku izinkan.

 

Keesokan harinya, aku dibantu untuk belajar menyusui oleh para perawat. Setiap tiga jam, perawat datang untuk membantu proses menyusui. Namun, Nabiel masih bingung puting. Setelah itu aku dipinjamkan pompa elektrik, untuk memerah ASI. Pada saat awal, hanya didapat kolostrum yang jumlahnya tidak lebih dari satu mL. Namun, susu tersebut tetap diambil dengan syrink oleh perawat tersebut, dan diberikan kepada Nabiel. Aku kagum melihat usahanya dalam membantuku untuk sukses memberikan ASI. Sejak saat itu, aku selalu dibawakan pompa setiap tiga jam. Jadi, kalaupun Nabiel masih belum bisa menyusu dengan baik, tapi dia masih dapat menikmati ASI yang dipompa, yang diberikan dengan cup kecil.

 

Pasca Melahirkan

 

Sebelum pulang dari rumah sakit, kami menghubungi Kraam Zorg untuk menyatakan bahwa kami akan segera pulang. Kraam Zorg ini adalah perawat yang tugasnya khusus membantu ibu-ibu yang baru melahirkan, biasanya sudah dipesan sejak usia kehamilan sekitar lima bulan. Selama tujuh hari pasca melahirkan, Kraam Zorg akan datang ke rumah kita untuk melakukan beberapa tugas, seperti memantau kondisi ibu dan bayi, serta membantu mengerjakan pekerjaan rumah.

 

Setiap hari Kraam Zorg mengukur suhu tubuh bayi, menimbang bayi, mengecek kondisi jahitan ibu, dan juga mengajarkan bagaimana cara mengurusi bayi, seperti memandikan dan menyusui. Karena aku memutuskan untuk memberikan ASI eksklusif, maka sebagian besar waktunya digunakan untuk melatih aku dan Nabiel agar dapat melakukan proses latch on dengan baik. Dia juga sempat menawarkan untuk mendatangkan konselor laktasi, tapi ternyata biayanya mahal sekali, 70 euro per jam kedatangan.

 

Jika masih ada waktu, mereka akan membantu melakukan pekerjaan rumah, seperti  mencuci pakaian bayi, bersih-bersih rumah dan kamar mandi, menyetrika dan lain-lain. Biasanya jam kerjanya 3-7 jam sehari, tergantung kebutuhan kita. Alhamdulillah asuransiku juga meng-cover biaya untuk Kraam Zorg ini.

 

Selain Kraam Zorg, tim bidan juga datang ke rumah sekali dua hari, selama minggu pertama pasca melahirkan. Bidan juga memantau kondisi kesehatan ibu dan bayinya. Jika terdeteksi ada masalah, kita akan direkomendasikan untuk segera menghubungi dokter keluarga.

 

Hari ke-4 setelah Nabiel lahir, kami mendapat kunjungan dari GGD (semacam dinas kesehatan) untuk memeriksa pendengaran Nabiel, dan mengambil sampel darah untuk pengujian 18 jenis penyakit, sehingga dapat dideteksi dari awal.

 

Hari ke-7 pasca melahirkan, kami didatangi petugas biro konsultasi bayi yang terdiri dari tim dokter dan perawat. Kami diberitahu di mana tempat biro konsultasi terdekat, kapan waktu kunjungannya, serta nomor telpon yang dapat dihubungi jika kita punya masalah yang ingin ditanyakan. Selain itu juga dibuatkan jadwal kedatangan pertama untuk imunisasi. Mereka juga memberikan buku panduan tumbuh kembang bayi. Dengan kondisi yang jauh dari orang tua dan keluarga saat ini, keberadaan biro konsultasi ini terasa sangat membantu.

 

Yang penting untuk diperhatikan:

  • Di Spanyol sangat jarang orang yang mampu berbahasa Inggris, jadi agak sulit untuk mendapatkan pelayanan dengan cepat.
  • Pastikan kita terdaftar di asuransi yang berlaku juga di luar Belanda, karena biaya konsultasi dokter bisa sangat mahal.
  • Berbeda dengan di Belanda, masakan Indonesia di Spanyol sangat terbatas.
  • Di Belanda, ginekolog hanya menangani pasien yang kehamilannya dianggap bermasalah, sisanya ditangani oleh bidan.
  • Segera daftarkan diri ke bidan (verloskundige) terdekat dengan rumah, bisa melalui internet maupun telepon. Umumnya bidan di Belanda mampu berbahasa Inggris. Jangan pernah terlambat datang kontrol!
  • USG dilakukan oleh ginekolog sebanyak tiga kali selama kehamilan, pada minggu ke-9, minggu ke-20 untuk memeriksa kelengkapan organ, dan minggu ke-36 untuk mengetahui posisi bayi dan membicarakan rencana kelahiran. Selain itu tidak dilakukan USG kecuali jika ada kasus tertentu.
  • Di Belanda tidak ada susu khusus ibu hamil, juga tidak diresepkan obat maupun multivitamin khusus ibu hamil. Cukup minum susu UHT cair dan makan makanan bergizi seimbang.
  • Telepon bidan setelah interval kontraksi setiap 3-4 menit. Bidan yang akan memeriksa bukaan, menelepon untuk memesan kamar bersalin, dan mengantarkan ke rumah sakit.
  • Siapkan nama bayi sebelum melahirkan, untuk keperluan administrasi di rumah sakit tempat melahirkan.

4 thoughts on “Hamil dan Melahirkan di Belanda”

  1. Pembagian kerja yang bagus sekali! Menyenangkan dapat membaca pengalaman bunda… Semoga di sini sebentar lagi sperti disana (kecuali yang tt aborsinya ya)..

  2. Assalamu’alaikum teh sri, ,salam kenal sy pipit alumni arsitek 2002, berhubung baru dateng ke belanda (enschede) & hanya berencana untuk tinggal 2,5 bulan sj, anak sy alya 2,5 thn msh blom punya koomunitas main ni, termasuk ibunya yg jg blom keluar rumah 5hr berhubung alya langsung sakit, ada rekomendasi komunitas ibu2 disini kah teh? Mohon info ya teh :), jazakillah khair

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>