akeelah and bee

Akeelah and The Bee: Jangan Takut pada Dirimu Sendiri

Resensi oleh: Yentri Marchelino

Judul Film: Akeelah and The Bee

Tahun rilis: 2006

Sutradara: Doug Atchison

Produser: Laurence Fishburne, Sid Ganis, Nancy Hult, Daniel Llewelyn, Michael Romersa

Pemeran: Keke Palmer, Laurence Fishburne, Angela Bassett, Curtis Armstrong, J. R. Villareal

Film ini salah satu dari sekian film keluarga yang menurut saya sangat memotivasi. Di dalamnya tertutur kisah tentang impian, usaha, persahabatan dan cinta. Hampir tidak ada peran antagonis dalam film ini, karena sang antagonis tidak sejahat cerita dalam film lain.

Akeelah Anderson (Keke Palmer) adalah anak perempuan kulit hitam berusia 11 tahun yang bersekolah di salah satu distrik di negara bagian Los Angeles, Amerika Serikat. Dengan pengalaman kehilangan ayahnya di usia yang sangat muda, dan ibunya ,Tanya Anderson (Angela Basset),  yang sangat sibuk untuk mengurus keempat anaknya, Akeelah tidak pernah merasa mendapat tempat untuk dihargai. Ia tumbuh tanpa rasa percaya diri. Ia seringkali mangkir dari pelajaran, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, serta tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada bidang apapun, walaupun ia selalu mendapatkan nilai bagus untuk pelajaran Bahasa Inggris, terutama untuk spelling (mengeja).

Pada saat di sekolah ada kontes spelling bee (perlombaan mengeja kata dalam bahasa Inggris), guru Bahasa  Inggrisnya menyarankan Akeelah untuk ikut serta, namun ia menolak. Dengan sedikit ancaman, akhirnya kepala sekolah Crenshaw Middle School tempat Akeelah bersekolah, Mr. Welch (Curtis Armstrong) berhasil memaksanya ikut perlombaan tersebut, dan tentu saja ia menang dengan mudah. Pada saat yang bersamaan, sekolah mereka sedang menerima kunjungan dari Dr. Joshua Larabee (Laurence Fishburne), yang tertarik dengan bakat Akeelah. Ia menantang Akeelah untuk mengeja beberapa kata sulit termasuk kata “Pulchritude”. Akeelah berhasil mengejanya, kecuali kata terakhir tersebut. Dengan kemenangannya di lomba Spelling Bee sekolah, Akeelah diberi mandat untuk mewakili sekolahnya di tingkat distrik, namun ia hampir tidak mau mengikutinya. Berkat motivasi dari kakak dan sahabatnya, ia memberanikan diri untuk mendaftarkan diri.

Pada kontes tingkat distrik ia bertemu dengan Javier Mendez (J.R. Villarreal) dan Dylan Chu (Sean Michael Afable), dua orang anak sekolah swasta Woodland Hills yang sudah mempunyai pengalaman banyak dalam kontes spelling bee. Bahkan Dylan sudah dua kali menjadi juara dua pada tingkat Nasional. Singkat cerita, Akeelah, Javier dan Dylan berhasil menang dan maju ke perlombaan spelling bee tingkat negara bagian Los Angeles. Akeelah sedikit beruntung dalam lomba ini karena peserta terakhir yang seharusnya memenangkan lomba, didiskualifikasi karena curang.

Akeelah yang pada awalnya menolak bantuan dari Dr. Larabee akhirnya menyerah dan mengakui bahwa ia butuh guru untuk melatihnya menghadapi perlombaan besar tersebut. Dr. Larabee membantu Akeelah bukan hanya dalam hal mempelajari kata-kata baru, tapi juga membantunya menemukan hal yang ia inginkan. “Aku ingin memenangkan Perlombaan Spelling Bee tingkat Nasional.”, Dr. Larabee berhasil memaksa Akeelah untuk menetapkan tujuan. Lalu, berhasilkah Akeelah memenangkan perlombaan di tingkat negara bagian untuk melaju ke tingkat Nasional? Bagaimana ia kemudian bisa menjembatani antara rasa ibanya terhadap Dylan dan keinginannya untuk menang? Demi melihat usaha Akeelah yang luar biasa untuk memenangkan perlombaan, lingkungannya ikut berubah. Perubahan apa yang terjadi, lalu bisakah dengan perubahan tersebut Akeelah mencapai impiannya? Nonton deh, dijamin terharu :)

Potensi diri. Tidak semua orang dapat menemukan apa yang menonjol dari dirinya, apa kelebihan, dan apa kekurangannya. Dan kalaupun ada orang yang menemukan potensinya sendiri, tidak semua mendapat kesempatan, bisa, atau mau memanfaatkan potensi tersebut, menggenjot usahanya sampai ke tingkatan paling tinggi. Sebagian orang terlalu takut untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia bisa, sebagian yang lain takut terhadap lingkungannya. Tapi film ini menunjukkan kepada kita bahwa segala sesuatu yang dikerjakan dengan sebaik-baiknya usaha, akan membawa kebahagiaan tersendiri pada sang pelaksana. Hasil yang baik sesungguhnya adalah hadiah, bukan semata tujuan dari apa yang kita usahakan.

Film ini juga menunjukkan bahwa kompetisi adalah sesuatu yang tidak terhindarkan dalam hidup kita, tapi kompetisi bukan berarti harus mencari musuh. Bekerja sama dalam mencapai tujuan, mempunyai nilai tersendiri, dan justru bisa mengubah lawan menjadi kawan. Terakhir, ada kutipan yang saya ambil dari film ini:

“Our deepest fear is not that we are inadequate
Our deepest fear is that we are powerful beyond measure
We ask our selves, ‘Who am I to be brilliant, gorgeous, talented and fabulous?’
Actually, who are you not to be?

We were born to make manifest, the glory of God that is within us
And as we let our own light shine, we unconsiously give other people permission to do the same.”
~Akeelah and The Bee, 2006~

Mudah-mudahan resensi ini cukup lugas untuk mengingatkan dan memotivasi kita semua, bahwa setiap manusia mempunyai kekuatan tersembunyi. Kekuatan yang siap bersinar, siap dibagi dan memberi jalan pada orang lain untuk ikut bersinar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>