Set of 6-800x800

[Renungan] Ibu : Bekerja atau di Rumah ? (part 3 of 3)

… lanjutan dari [Renungan] Ibu : Bekerja atau di Rumah (part 2 of 3).

Dari sudut pandang tentang anak.

Seperti halnya jodoh, yang sudah Allah pasang-pasangkan sedemikian rupa. Maka anak dan ibu pun demikian, sudah Allah pasang-pasangkan. Ibu yang ini untuk anak yang ini. Ayah yang ini, untuk anak yang ini. Allah menjamin tidak akan salah pasang, tidak akan salah menempatkan, dan tidak akan salah memberikan situasi.

Jika ibunya cerdas, dan ayahnya cerdas, silakan mengira-ngira, seperti apa anak yang akan Allah titipkan ? dan mengapa anak itu harus dititipkan pada orang tua yang ini ?

Maka, lagi-lagi, pasti ini ada tujuannya. Bagian dari misi penciptaan kita. Menjadi ibu adalah salah satu misi wanita diciptakan. Menjadi ayah adalah salah satu misi laki-laki diciptakan. Jadi observasi dengan menyeluruh, bagaimana kita bisa menjadi orang tua yang tepat untuk anak yang ini ? sesuai dengan tujuan Allah memasangkan kita dengan anak itu.

Dari situ, bisa dilihat apakah saat ini, pilihan untuk bekerja dulu, atau fokus di rumah dulu, sebagai pilihan yang tepat ? Ingat lho, “saat ini”. Karena bulan depan, tahun depan, bisa jadi beda lagi kesimpulan kita. Makanya, satu-satunya cara untuk tahu : pasang mata dan telinga batin, lalu tanya pada Allah

“what do YOU want me to do now ?”

Kaitannya dengan batas waktu, koridornya dalam Islam hanya : susui anak kalau bisa sampai 2 tahun, ajari anak shalat mulai 7 tahun (dan kalau usia 10 tahun belum shalat boleh dihukum), dan mempersiapkan anak masuk usia baligh (karena setelah baligh, pahala dan dosa mereka yang tanggung sendiri).

Dari sudut pandang tentang suami.

Ada anggapan yang umum : bahwa laki-laki ketika menjadi ayah sekali pun, punya kebebasan berada di luar rumah, dalam pekerjaannya, atau dalam aktivitas lain. Bisa kemana saja sesuka hati. Sementara wanita, ketika menjadi ibu, ruang gerak terbatas, seringkali hanya bisa di rumah saja, tidak bebas, tidak bisa kemana-mana dengan sesuka hati.

Well, untuk tahu apakah anggapan ini benar dan baik untuk dipercaya, atau justru menyesatkan pikiran, saya bertanya ke suami. Dan inilah jawabannya :

Lelaki (suami) baik-baik tidak pernah menganggap : berada di luar rumah – bekerja – beraktivitas lain, sebagai “enak-enak” atau “kebebasan”. Jika ada laki-laki yang berpikir itu kebebasan, maka dijamin dia bukan laki-laki yang baik.

Maka, wahai semua wanita, jangan mau merasa  iri dengan yang seperti itu. Jangan mau merasa “bebas” seperti itu, karena yang kau iri-kan, yang kau cemburui, sebenarnya bukan gambaran laki-laki baik-baik. Anda salah mengira.

Laki-laki yang baik akan membawa beban tanggungannya dalam pikirannya kemanapun dia melangkah. Setiap ikhtiarnya penuh doa semoga bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga. Sebelah mana bebasnya ? sebelah mana enak-enaknya ?

Dalam ikhtiarnya, hampir selalu berhadapan dengan ketidakpastian. Ada saja yang tidak bisa diukur dari amanahnya. Cukup atau tidak untuk keluarga, barokah atau tidak, halal atau tidak, sesuai kompetensi atau tidak, berurusan dengan atasan dan bawahan bagaimana, dll. Sebenarnya, dunia di dalam rumah seperti urusan rumah tangga dan pengasuhan anak, justru lebih mudah terukur.

Jika wanita sering melihat suami yang baik-baik pun ketawa-ketawa di luar seolah hidup begitu bebas dan bahagia. Ah, itu karena, tidak semua laki-laki pandai mengekspresikan pikiran beratnya dan doa-doanya melalui raut wajahnya.

Jadi tak perlu lah saling iri. Karena dalam tugasnya, suami tidak mengambil jatah wanita dalam keutamaan dan kebahagiaan sebagai istri dan ibu. Begitu pun istri, dalam tugasnya, tidak mengambil jatah laki-laki dalam keutamaan dan kebahagiaan sebagai suami. Tidak ada yang saling mencuri jatah. Masing-masing punya jatahnya sendiri-sendiri.

Dengan sudut pandang ini, kita bisa memahami, bahwa jika suami dan istri bersepakat untuk si istri bekerja di luar rumah, maka hanya akan baik jika : bukan karena istri melakukan kewajiban suami. Hanya akan baik jika : istri murni melakukan itu untuk atualisasi dirinya. Hanya akan baik jika : suami dan istri sama-sama paham bahwa jika istri ikut menanggung kebutuhan keluarga, maka itu shadaqah. Oleh karena itu, tidak boleh ada paksaan. Tidak boleh ada tekanan, apalagi tuntutan.

Sebagai sepasang manusia yang sudah Allah takdirkan untuk bersatu, mulailah selalu dengan keyakinan bersama : apa yang Allah minta dari kita sekarang ?,

lalu perjelas melalui diskusi berdua karena butuh sama-sama paham dan sama-sama enak,

lalu sepakati, dan bergeraklah atas kesepakatan tersebut.

Sering-sering evaluasi pilihan-pilihan yang sudah diambil.

Dan pastikan, selalu, hadapkan wajah berdua hanya pada Allah. Lalu pastikan selalu menatap ke depan, ke arah yang Allah tunjukkan.

Apapun yang Allah pesankan saat ini pada anda, bekerja dulu ataupun di rumah dulu. Then you are in the right track to heaven :) . Congratulations Mom :) .

One thought on “[Renungan] Ibu : Bekerja atau di Rumah ? (part 3 of 3)”

  1. I love this article, hidup bukan untuk saling menghakimi, karna Hakim kita adalah Allah, kita tidak berhak menghakimi orang lain, ijin share ya mbak :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>