Set of 6-800x800

[Renungan] Ibu : Bekerja atau di Rumah ? (part 3 of 3)

… lanjutan dari [Renungan] Ibu : Bekerja atau di Rumah (part 2 of 3).

Dari sudut pandang tentang anak.

Seperti halnya jodoh, yang sudah Allah pasang-pasangkan sedemikian rupa. Maka anak dan ibu pun demikian, sudah Allah pasang-pasangkan. Ibu yang ini untuk anak yang ini. Ayah yang ini, untuk anak yang ini. Allah menjamin tidak akan salah pasang, tidak akan salah menempatkan, dan tidak akan salah memberikan situasi.

Jika ibunya cerdas, dan ayahnya cerdas, silakan mengira-ngira, seperti apa anak yang akan Allah titipkan ? dan mengapa anak itu harus dititipkan pada orang tua yang ini ?

Maka, lagi-lagi, pasti ini ada tujuannya. Bagian dari misi penciptaan kita. Menjadi ibu adalah salah satu misi wanita diciptakan. Menjadi ayah adalah salah satu misi laki-laki diciptakan. Jadi observasi dengan menyeluruh, bagaimana kita bisa menjadi orang tua yang tepat untuk anak yang ini ? sesuai dengan tujuan Allah memasangkan kita dengan anak itu.

Dari situ, bisa dilihat apakah saat ini, pilihan untuk bekerja dulu, atau fokus di rumah dulu, sebagai pilihan yang tepat ? Ingat lho, “saat ini”. Karena bulan depan, tahun depan, bisa jadi beda lagi kesimpulan kita. Makanya, satu-satunya cara untuk tahu : pasang mata dan telinga batin, lalu tanya pada Allah

“what do YOU want me to do now ?”

Kaitannya dengan batas waktu, koridornya dalam Islam hanya : susui anak kalau bisa sampai 2 tahun, ajari anak shalat mulai 7 tahun (dan kalau usia 10 tahun belum shalat boleh dihukum), dan mempersiapkan anak masuk usia baligh (karena setelah baligh, pahala dan dosa mereka yang tanggung sendiri).

Dari sudut pandang tentang suami.

Ada anggapan yang umum : bahwa laki-laki ketika menjadi ayah sekali pun, punya kebebasan berada di luar rumah, dalam pekerjaannya, atau dalam aktivitas lain. Bisa kemana saja sesuka hati. Sementara wanita, ketika menjadi ibu, ruang gerak terbatas, seringkali hanya bisa di rumah saja, tidak bebas, tidak bisa kemana-mana dengan sesuka hati.

Well, untuk tahu apakah anggapan ini benar dan baik untuk dipercaya, atau justru menyesatkan pikiran, saya bertanya ke suami. Dan inilah jawabannya :

Lelaki (suami) baik-baik tidak pernah menganggap : berada di luar rumah – bekerja – beraktivitas lain, sebagai “enak-enak” atau “kebebasan”. Jika ada laki-laki yang berpikir itu kebebasan, maka dijamin dia bukan laki-laki yang baik.

Maka, wahai semua wanita, jangan mau merasa  iri dengan yang seperti itu. Jangan mau merasa “bebas” seperti itu, karena yang kau iri-kan, yang kau cemburui, sebenarnya bukan gambaran laki-laki baik-baik. Anda salah mengira.

Laki-laki yang baik akan membawa beban tanggungannya dalam pikirannya kemanapun dia melangkah. Setiap ikhtiarnya penuh doa semoga bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga. Sebelah mana bebasnya ? sebelah mana enak-enaknya ?

Dalam ikhtiarnya, hampir selalu berhadapan dengan ketidakpastian. Ada saja yang tidak bisa diukur dari amanahnya. Cukup atau tidak untuk keluarga, barokah atau tidak, halal atau tidak, sesuai kompetensi atau tidak, berurusan dengan atasan dan bawahan bagaimana, dll. Sebenarnya, dunia di dalam rumah seperti urusan rumah tangga dan pengasuhan anak, justru lebih mudah terukur.

Jika wanita sering melihat suami yang baik-baik pun ketawa-ketawa di luar seolah hidup begitu bebas dan bahagia. Ah, itu karena, tidak semua laki-laki pandai mengekspresikan pikiran beratnya dan doa-doanya melalui raut wajahnya.

Jadi tak perlu lah saling iri. Karena dalam tugasnya, suami tidak mengambil jatah wanita dalam keutamaan dan kebahagiaan sebagai istri dan ibu. Begitu pun istri, dalam tugasnya, tidak mengambil jatah laki-laki dalam keutamaan dan kebahagiaan sebagai suami. Tidak ada yang saling mencuri jatah. Masing-masing punya jatahnya sendiri-sendiri.

Dengan sudut pandang ini, kita bisa memahami, bahwa jika suami dan istri bersepakat untuk si istri bekerja di luar rumah, maka hanya akan baik jika : bukan karena istri melakukan kewajiban suami. Hanya akan baik jika : istri murni melakukan itu untuk atualisasi dirinya. Hanya akan baik jika : suami dan istri sama-sama paham bahwa jika istri ikut menanggung kebutuhan keluarga, maka itu shadaqah. Oleh karena itu, tidak boleh ada paksaan. Tidak boleh ada tekanan, apalagi tuntutan.

Sebagai sepasang manusia yang sudah Allah takdirkan untuk bersatu, mulailah selalu dengan keyakinan bersama : apa yang Allah minta dari kita sekarang ?,

lalu perjelas melalui diskusi berdua karena butuh sama-sama paham dan sama-sama enak,

lalu sepakati, dan bergeraklah atas kesepakatan tersebut.

Sering-sering evaluasi pilihan-pilihan yang sudah diambil.

Dan pastikan, selalu, hadapkan wajah berdua hanya pada Allah. Lalu pastikan selalu menatap ke depan, ke arah yang Allah tunjukkan.

Apapun yang Allah pesankan saat ini pada anda, bekerja dulu ataupun di rumah dulu. Then you are in the right track to heaven :) . Congratulations Mom :) .

2

[Renungan] Ibu : Bekerja atau di Rumah ? (part 2 of 3)

… lanjutan dari [Renungan] Ibu : Bekerja atau di Rumah ? (part 1 of 3)

Okay, so now, what should I do ?

Tanya pada Allah SWT. Tanya pada yang membuat kita. Sebagai produk pabrik, maka bertanyalah pada si pemilik pabrik :

1.      1.  saya ini didesain untuk apa ?

2.      2.  untuk sampai pada misi pembuatan saya, saya harus melalui proses apa saja ?

3.      3.  Dan saat ini saya harus ada di proses mana ?

Sejatinya, hanya Allah yang punya segala jawaban yang kita tanyakan. Bukan forum ibu-ibu, bukan milis komunitas, bukan teman, bukan orang tua, bukan suami, bahkan … bukan kita sendiri.

Pada dasarnya, hidup kita ini diperjalankan oleh Allah. Allah yang Menentukan kita akan belok kemana, parkir dimana, nge-gas dimana. Kita lah yang perlu pasang mata dan telinga batin, untuk mendengar petunjukNya.

Kita hidup dalam rencana Allah. Dan karena Allah Maha Mengurus hambaNya, maka dijamin, kita tidak akan ditelantarkan. Itu juga berarti, kita boleh, sangat boleh, percaya penuh pada rencanaNya.

Nah, Allah tidak selalu menjawab 3 pertanyaan tadi sekaligus saat ini. Dalam banyak kehidupan, Allah hanya memberi tahu kita beberapa tahun ke depan, atau bahkan beberapa hari ke depan. Ibaratnya, malam hari kita mengendarai  mobil di jalan panjang dan gelap gulita, dengan mengandalkan lampu mobil sebagai cahaya. Kita tidak bisa lihat ujung jalannya, tapi kita bisa lihat 20 meter ke depan dengan lampu mobil itu. Ya kita cukup percaya pada 20 meter di depan itu. 20 meter, lalu 20 meter lagi, lalu 20 meter lagi. Kita yakin, dengan mengikuti itu pun kita bisa sampai di ujung jalan.

Seperti itulah IMAN.

Percaya pada informasi dari Allah untuk 20 meter ke depan hidup kita. Iman yang membawa kita menjalani hari-hari dengan yakin. Karena pada hari-hari yang terbatas itu, kita percaya pada perintah Allah : jalanlah di jalan ini. Kita tidak tahu, untuk sampai di tujuan kita, kita akan dibawa belok kemana saja. Tapi kita tahu, kita akan dibawa Allah sampai ujung jalan, sampai ke misi penciptaan kita, hanya dengan terus menerus mengandalkan 20 meter di depan yang terlihat tadi.

And you know what ? that is enough. Sangat cukup untuk membuat kita hidup tenang dan yakin bisa sampai di tujuan kita. Asal ikuti pesan yang Allah berikan saat ini. Jadi pasanglah mata dan telinga batin.

Satu hal yang sangat saya yakini. Allah memberi bekal kekuatan pasti untuk sebuah maksud. Jadi seorang wanita diberi kecerdasan pasti juga untuk sebuah maksud. Dan itu pasti untuk sesuatu yang besar. Saya yakin, kecerdasan setinggi ini tidak hanya diberikan untuk beberapa orang yang ada di rumah saja. Terlalu banyak kalau hanya untuk suami dan anak-anak saja.

Maka pastilah kecerdasan tinggi ini dipersiapkan untuk amanah besar dan luas. Mungkin sebesar dan seluas umat. Dan amanah ini juga akan unik, sesuai misi penciptaan kita. Every task for every single person.

Jadi saya yakin, akan datang waktunya Allah menagih kecerdasan ini, untuk digunakan bagi kebaikan lebih banyak orang, untuk kebaikan umat. Nah, waktunya kapan ? biar Allah yang tentukan.

Allah Maha Tahu apa seorang hamba sudah siap dibawa ke amanah besarnya. Allah Maha Tahu, apa saja proses yang harus dilalui sampai seorang hamba siap menjalani misi penciptaannya. Maka pastikan, selama belum sampai ke amanah misi penciptaan kita, kita selalu meng-up grade diri kita menjadi lebih baik dan lebih cerdas.

Jika saat ini, misalnya, pesan dari Allah adalah : fokus dengan yang di rumah dulu. Maka yakinlah panggilan itu akan datang kok. Hidup kita masih panjang. Dan ketika panggilan itu datang, kita telah jadi orang yang berbeda dari kita sekarang. Ketika amanah itu datang pada kita, kita akan sangat bersyukur bahwa kita pernah dibina oleh Allah sebagai ibu rumah tangga di rumah, sehingga kita punya kekuatan-kekuatan yang tidak akan pernah kita punya jika kita tidak pernah jadi ibu rumah tangga.

Kehidupan rumah tangga, sebenarnya memberikan kesempatan seorang ibu melihat dirinya apa adanya, lepas dari penilaian kinerja perusahaan. Ini berarti juga kesempatan mengasah banyak sifat asli dalam diri kita. Jadi jika saat ini, misalnya, pesan Allah adalah : fokus di rumah, maka seorang ibu punya kesempatan memperbesar kapasitas keikhlasan, empati, kesigapan, termasuk iman.

Sehingga, pada saatnya amanah besar itu datang, kita akan tahu bagaimana mendahulukan kepasrahan pada Allah lalu diikuti dengan sebaik-baiknya ikhtiar.

 

Selanjutnya: http://itbmotherhood.com/2013/08/27/renungan-ibu-bekerja-atau-di-rumah-part-3-of-3/

1

[Renungan] Ibu : Bekerja atau di Rumah ? (Part 1 of 3)

Salah satu kegalauan yang terjadi pada ibu-ibu berpendidikan tinggi : memilih bekerja atau tinggal di rumah. Ini tentu saja sering terjadi pada teman-teman lulusan ITB.

Pemicunya bisa dari komentar orang, mulai dari yang halus sampai yang mencibir. Atau pertanyaan dari orang tua / keluarga, mulai dari yang sekedar bertanya, sampai yang seolah menagih. Atau dari diri sendiri : yang di rumah merasa ngiler ingin bekerja-berkarya di luar, yang bekerja di luar rumah ngiler ingin menghabiskan waktu dengan anak-anak di rumah.

It is a never ending topic. Ini juga pergulatan batin yang bisa jadi belum berhenti, meski sudah memilih salah satu pilihan.

Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi beberapa sudut pandang yang saya rasakan seumur saya menjadi istri dan ibu.

Saya ingin mulai dari istilah. Karena saya rasa ada masalah mendasar disini. Persepsi.

Entah sejak kapan, mulai ramai istilah : working mom dan stay-at-home mom. Working mom mengacu pada ibu bekerja eight – to – five, stay-at-home mom mengacu pada ibu yang memilih di rumah “saja”.

Awalnya, ini cuma istilah. Lambat laun jadi dasar persepsi. Adanya istilah ini membuat pengelompokan, yang membuat pikiran jadi merasa harus memilih antara 2 pilihan. If you’re working mom, than you can’t be a stay-at-home mom. Begitu juga sebaliknya.

Lebih jauh lagi, jadi bikin dua kelompok yang kadang saling –maaf- mencibir, atau malah saling iri dan ngiler.

Lucu kan jadinya ? How that term can actually drive your mind into a perception. A dicotomy. Ya, sebuah dikotomi. Pembedaan yang tegas.

Well, maaf, saya menolak pembedaan itu. Either you’re working or not, you are a FULL TIME MOM. Karena tak ada seorang ibu pun, yang pernah lepas pikirannya dari anak-anaknya. Dimana pun ibu itu berada. Di kantor, di rumah, di pasar, depan kompor, depan laptop, depan setumpuk kerjaan, ketika ber-daster, ketika ber-blazer. Whatever you do, whereever you are, a mother is a Full Time Mom. Titik.

Ini juga membawa ke sudut pandang baru.

Yang manusia butuhkan, laki-laki ataupun perempuan, adalah ruang untuk berkarya. Maka berkarya bisa dilakukan dalam bentuk apapun dan kapan pun. Saat bekerja di kantor, saat mengelola online shop, saat mengasuh anak, saat berbincang dengan tetangga.

Seorang ibu yang saat ini sedang fokus di rumah, bisa nanti Allah bawa ke dunia kerja. Seorang ibu yang berkarir, bisa nanti Allah bawa ke rumah. So be flexible.

Lagipula setiap ibu adalah pribadi yang berbeda. Cerita hidupnya beda, tuntutan dan amanah hidupnya beda, dan yang paling dalam adalah : misi penciptaannya dari Tuhan juga beda, maka akan Allah beri lika-liku hidup yang beda juga.

Jadi sangat tidak adil membanding-bandingkan antara hidup seorang ibu dengan ibu yang lain. Antara hidup seseorang dengan orang lain.

Tidak adil pada diri kita sendiri, jika memandang terus laju gerakan orang lain, dan membandingkannya dengan diri sendiri.

Tidak adil pada diri sendiri, jika anggapan orang lain menjadi kacamata kita ketika melihat diri sendiri.

So stop comparing yourself, this is your life. Not others.

Hidup kita tujuannya jelas : Mewujudkan misi penciptaan dari Allah.

Setiap orang unik dengan misi penciptaannya sendiri-sendiri. Oleh karena itu diberi bekal perjalanan yang beda, yaitu : bakat dan kekuatan yang beda. Dan tentu saja, diberi lika-liku hidup yang beda, karena setiap orang dibentuk oleh Allah dengan cara yang beda. Different life for every single person.

Jadi, hidup kita bukan untuk menjawab pertanyaan orang lain. Bukan untuk memenuhi ekspekstasi orang lain. Bukan untuk menyenangkan orang lain. Bukan untuk memuaskan standar orang lain.

Bedakan dengan :

Hidup untuk berkarya sebaik-baiknya. Hidup untuk menjadi istri sebaik-baiknya. Hidup untuk menjadi ibu sebaik-baiknya. Hidup untuk berbakti pada orang tua dengan sebaik-baiknya. Hidup untuk menjadi teladan di keluarga dengan sebaik-baiknya.

Hidup juga bukan untuk memanggul harga diri kemana-mana. Hidup bukan untuk menenteng kebanggaan apalagi gengsi. Hidup bukan untuk berharap dinilai sebagai : “sudah jadi orang atau belum”. Itu sangat dangkal.

Listen to this :

Saya tidak butuh pengakuan orang untuk menjadi berharga. Apa adanya diri saya, itu sudah sangat berharga. Jadi jangan pasangkan harga diri saya pada identitas : wanita karir, karyawan MNC, engineer, mom-preneur, dll. Seolah jika saya tidak punya identitas itu, then I’m nothing. Itu salah besar.

Siapa pun saya, saya terlahir dengan membawa 100% cinta dan penghargaan. Bagaimana pun diri saya, saya sangat berhak dicintai. Sangat berharga. Sangat istimewa.

So, please, do check your intention. Check your mind. Check your heart. Heal it.

Selanjutnya: http://itbmotherhood.com/2013/08/27/renungan-ibu-bekerja-atau-di-rumah-part-2-of-3/

Dewi Laily: Menjadi Finalis Ibu Teladan 2012 versi Majalah Noor

Menjadi salah satu finalis Ibu Teladan 2012 sangat tak terbayangkan. Wah … aku sungguh bersyukur.  Alhamdulillah dalam ajang Tribute to Mom yang digagas oleh Majalah Noor aku diberi kesempatan untuk bertemu dengan ibu-ibu hebat yang sarat prestasi. Predikat juara menurut penilaian pribadiku bukan satu-satunya tujuan diadakannya kegiatan ini. Namun,kesempatan untuk menggali beragam pengalaman inspiratif dari setiap ibu yang menjadi kandidat itulah yang penting. Inspirasi bisa membuat kita mendapat energi baru untuk terus berkarya dan meraih prestasi (walau tidak harus disematkan sebagai lencana atau piala).

Foto satu : Saat diminta memberikan tanggapan atas diselenggarakannya acara Tribute to Mom oleh Majalah Noor tahun 2012

 

Seorang ibu sangatlah penting dan strategis perannya dalam kehidupan keluarga. Pun demikian dalam konteks kemanusiaan dan kehidupan sosial serta berbangsa dan bernegara. Amanah menjadi seorang ibu adalah anugerah terbesar bagiku dan juga bagi para finalis yang sempat berbincang akrab denganku saat menunggu waktu penjurian.

 

Foto kedua : Sama-sama hobi menulis tapi dengan gaya yang berbeda … Aku non fiksi dan Mba Tyas spesialisasi fiksi Asih Purwaningtyas Chasanah, ibu empat orang anak, istri dari penulis terkenal Gola Gong.

 

Mba Tyas, aku memanggilnya juga seorang penulis dan pendiri komunitas Rumah Dunia di Serang Banten. Kami berbincang ‘umplek’ karena ternyata minat kami sama, yaitu sama-sama tertarik dengan pendidikan anak yang lebih berkarakter dan membebaskan. Ha3 … sampai-sampai Yudiana Tirta salah satu wartawan Majalan Noor mengira kami sudah kenal lama … Padahal baru hari itu kami bertemu muka. Saat menunggu dirias oleh tim make up Wardah, aku sempat berbincang asyik dengan Yasteti Fahmi istri dari Brigjen (Purn) Fahmi Firdaus. Bu Teti ternyata sama denganku sebagai wali murid di SD Islam PB. Soedirman Cijantung. Guru dan wali kelas anaknya pun sama dengan anakku walau berbeda lebih dari 10 tahun. Asyiknya kami berbincang tentang masa-masa menemani anak-anak bersekolah di tingkat SD. Sebagai ibu sangat perhatian menemani proses belajar anak-anaknya. Anak-anak kamipun ternyata punya guru favorit yang sama yaitu Bapak Sungadi, MM. Ah … Begitu mudahnya Allah SWT mempertemukan kami dalam silaturahim yang indah ini. Bu Teti meraih penghargaan Ibu Teladan IV.

Foto ketiga : Berfoto sebelum acara final bersama dewan juri. Bu Teti berdiri di tengah dengan senyum keibuan yang ramah.

Tak disangka loh … Aku bisa berbincang seru tentang Blue Economy bersama Dewi Smaragdina. Ya Allah … Subhanallah … Ternyata kami sama-sama pernah sekolah di kota Cirebon tercinta. Walau beda sekolah, namun kenangan kami tentang kota kecil yang indah itu begitu mendalam. Jadilah hampir setengah jam lebih kami berdiskusi tentang kota Cirebon juga tentang forum ekonomi yang digagas oleh Mba Dewi. Aku memiliki minat terhadap green building and eco architecture (karena latar belakang pendidikan arsitektur di ITB) berkoneksilah dengan Mba Dewi yang sangat mumpuni di bidang blue economy. Senangnya hati ini bisa bertukar kartu nama dan bersepakat untuk melanjutkan silaturahim dalam forum-forum peduli lingkungan. Aku juga mengundang Mba Dewi untuk suatu hari mampir di kampus CIC dan ISIF di Cirebon tempatku mengajar bisnis manajemen (terutama kajian perempuan dan ekonomi). Mba Dewi meraih penghargaan Ibu Teladan I. Seorang ibu hebat lain yang berbincang seru denganku adalah Wylvera Windayana. Seorang penulis dan anggota Komunitas Emak-emak Blogger. Kami mengobrol dimulai dari hal lucu … Aku merasa datang terlalu pagi dari jadwal jam sepuluh. Ternyata … Mba Wiwiek sudah lebih dahulu datang dan jadilah kami mengobrol tentang aktivitas yang ditekuni. Ya … kami sama-sama suka mengajar. Mba Wiwiek mengajar sukarela di sebuah sekolah dasar tentang jurnalistik. Aku sungguh terinspirasi untuk lebih semangat lagi aktif di kegiatan sosial terutama mengajar ibu-ibu menulis di komunitas yang menjadi mitra Fahmina Institut Cirebon. Mba Wiwiek meraih penghargaan Ibu Teladan III.

Foto keempat : Pose bersama ternyata hobi yang sama dari para finalis. Dewi Smaragdina duduk paling kanan dan Wylvera Windayana duduk paling kiri.

 

Satu lagi pengalaman tak terlupakan adalah saat seluruh finalis tampil di panggung, aku berdiri tepat di sebelah kiri Helvy Tiana Rosa. Ingatanku kembali pada sepuluh tahun yang lalu, saat aku bersama Asma Nadia (adik kandung Mba Helvy) menjadi juara Ibu Teladan versi Softener So Klin. Saat berbincang di ruang ganti, aku jadi tahu Mba Helvy punya kebiasaan yang sama denganku yaitu tak terlalu suka berdandan dan ber-make up. He3 … Ketika ditawari untuk didandani aku dan Mba Helvy memilih menjadi peserta terakhir. Sungguh Allah Maha Kuasa … Dipertemukannya pula aku dengan seorang penulis hebat yang juga telah mendapat award dari Republika. Tak berlebihan bila Majalah Noor dan BRI memberi Mba Helvy penghargaan Ibu Inspiratif.

Foto kelima : Senyum manis finalis Ibu Teladan 2012 versi Majalah Noor terus menebar inspirasi bagi perempuan Indonesia. Helvy Tiana Rosa dan Dewi Laily Purnamasari berdiri ke empat dan ketiga dari kanan.

 

Rasa kagumku juga pada lima orang juri yang telah bekerja keras menggali beragam pengalaman dari para kandidat. Amani Lubis seorang profesor di UIN Jakarta, Retno Wahyuni Wijayanti wakil presiden di bank BRI, Ratih Sanggarwaty redaktur ahli Majalah Noor, Jetti R. Hadi pemimpin redaksi Majalah Noor, dan Anna Rochana Rohim ibunda Ary Ginanjar Agustian pendiri ESQ. Bu Tila memberikan sambutannya di Puri Ratna, Hotel Sahid Jaya Jakarta dengan mengingatkan kita atas perjuangan kaum ibu sebagai bagian tak terpisahkan dari kemerdekaan Republik Indonesia. Perempuan Indonesia di masa kini tentu harus juga memiliki semangat juang yang sama untuk mengisi kemerdekaan dengan prestasi.

 

Sumber: http://sosok.kompasiana.com/2013/01/11/ibu-teladan-2012-versi-majalah-noor-518533.html

Camilan untuk ibu hamil

Assalamualaikum bunda :)

Memasuki trimester ke-3 emang bakal bikin bunda semakin bulet dan chubby (o^.^o) karena bawaannya lapeeerr melulu! Dikit2 bawaannya buka kulkas ato toples nyari camilan :)) Tapi bunda jg harus milih2 camilan loh, karena ga semua makanan ringan baik untuk ibu hamil. Kebetulan, salah satu camilan yg dianjurkan oleh dokter aku itu adalah camilan homemade alias buatan tangan sendiri, biar kita bisa mengatur nutrisi, kadar gula, dan garam di dalamnya, dan yg jelas, bebas MSG! Akhirnya ku oprek2lah isi kulkas, dan ternyata nemu daging cincang, kentang, sama wortel. Hmm…langsung kepikiran bikin kroket. Tapi berhubung keburu laper, akhirnya si daging sm wortel yg harusnya jd isian kroket, aku mix aja sama adonan kentangnya, trus dibulet2 gt deh kaya biterballen biar cepet hahaha… Cara bikinnya gampang aja!

Ini dia resepnya:

 

KROKETBALLEN

Bahan:

- kentang ukuran sedang 3 butir, potong dadu

- daging cincang 100 gr

- wortel 2 biji, potong kotak2 kecil

- bawang bombay kecil 1 butir

- bawang putih 2 siung

- bawang daun 2 helai

- margarin 1 sdm

- gula pasir 1 sdt, garam stgh sdt, merica sesuai selera

- susu murni 1 cangkir

- telur 3 butir, kocok lepas

- tepung roti secukupnya

Cara membuat:

- rebus/ kukus kentang hingga lunak, dinginkan kemudian tumbuk sampe halus, sisihkan

- tumis bawang bombay dan bawang putih pake margarin hingga harum

- masukkan wortel dan daging cincang, lajut tumis sampe harum

- masukkan gula pasir, garam, dan merica, aduk hingga rata

- masukkan bawang daun

- tuang susu murni, aduk hingga susu meresap

- masukkan bahan tumisan ke dalam kentang yg sudah ditumbuk, aduk rata menggunakan tangan hingga adonan kalis seperti ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

- bentuk adonan bulet2 sebesar bola pimpong (lebih kecil dikit deng :p) lalu masukkan ke dalam kocokan telur

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

- kemudian, masukkan ke dalam hamparan tepung roti, guling2 hingga merata

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

- huala! this is it! adonan KROKETBALLEN yg udah siap buat digoreng. Supaya tepung roti lebih melekat dan ga lepas waktu digoreng, simpan dulu di kulkas kurang lebih 1/2 jam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

- Adonan yg disimpen di kulkas ini tahan lama loh bunda. Ga perlu sekaligus digoreng semuanya. Digoreng secukupnya aja tiap kali bunda laper pengen ngemil2 di sore hari hihihi :p kebetulan hari ini aku udah melahap 10 butir kroketballen yg imut ini :)) disantap pake saos sambel dan mayonaise jd makin maknyus :9

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Semoga resep ini bermanfaat ya bunda! dan semoga kita semua diberi kesehatan dan kelancaran dalam menghadapi proses persalinan nanti. Amiiiiinnnn ya Rab!

 

Salam,

Akachan’s bunda to be

 

Apa yang dilihat dan dialami anak selama masa tumbuh kembang

0-6 Bulan

Tiga bulan pertama kehidupan bayi Anda memang agak membingungkan baginya. Ia belum bisa membedakan pagi dan malam. Semua yang ia lihat tidak jelas. Sebagian besar waktunya dihabiskan dengan tidur, menyusu, dan buang air. Cakupan perhatiannya amat pendek, begitu juga dengan memorinya. Misalnya, ia bisa lupa apa yang baru saja ia lihat begitu ia menoleh ke arah lain.

Bagaimanapun, pada usia ini ia mulai mengerti bahwa ia begitu penting karena Anda selalu merespon terhadap apa yang ia butuhkan dan Anda selalu memberikan ia banyak perhatian. Ia akan membalas perhatian Anda dengan senyuman-senyuman pertamanya. Ia juga mulai mencari caranya sendiri untuk mendapatkan perhatian Anda, misalnya dengan teriakan kecil atau menggoyangkan badannya.

6-12 Bulan

Pada usia ini, jangan kaget kalau ia menangis bila Anda tinggal. Ia pikir bila Anda pergi, Anda akan pergi selamanya. Yang ia mengerti, jika ia tidak melihat sesuatu, hal itu tidak akan ada lagi. Buat ia mengerti konsep yang benar dengan bermain cilukba!

Yang mengagumkan, pada usia ini ia sudah mulai mengenal hukum fisika. Riset menunjukkan, pada usia enam bulan, seorang bayi akan kaget melihat ada benda yang terlempar tapi tidak jatuh ke tanah. Ya, ia sudah mengerti hukum gravitasi! Mendekati ulang tahun pertamanya, bayi Anda dapat mengerti perintah-perintah Anda (dan bagaimana untuk melawannya!). Meski tidak yakin ia mengerti kata-kata Anda, Anda perlu konsisten terutama mengenai larangan melakukan sesuatu yang berbahaya mengingat ia makin banyak gerak dan mulai dapat berjalan.

12-18 Bulan

Mayoritas balita sudah tahu sekitar 200 kata pada saat mereka mulai berbicara. Tapi karena kosakatanya terbatas, anak Anda bisa jadi menggunakan satu kata untuk banyak hal. Misalnya ia memanggil ayahnya “papa”, ia bisa juga memanggil pak supir dengan “papa” hanya karena ia tidak tahu harus panggil apa. Seiring dengan meningkatnya kemampuan bahasa, perilaku anak Anda juga makin teratur. Ia bisa merangkai dua gagasan dan membuat rencana. Misalnya, ia ingat bahwa ia meninggalkan bonekanya di depan TV lalu ia pergi ke sana dan mengambilnya.

Pada fase usia ini, anak semakin mandiri. Ia lebih banyak beraksi ketimbang bereaksi. Ia akan bereksperimen pada banyak benda di rumah. Tidak perlu memarahinya jika Anda menemukan ia sedang memasukkan biskuit ke dalam DVD player. Beri penjelasan mengapa makanan tidak boleh jadi satu dengan alat elektronik. Ia akan belajar dari trial and error bagaimana benda-benda dapat bekerja dan benda mana yang cocok dengan yang lain.

18 Bulan Ke Atas

Sekitar usia 21 bulan, anak Anda akan mengucapkan kata-kata dan membentuk kalimat sederhana. Ia akan merespon pertanyaan yang Anda berikan dan mungkin juga bertanya kepada Anda (“Mama makan apa?”). Ia akan bisa membedakan warna dan belajar angka satu sampai 10. Ia sudah bisa mengerti konsep yang lebih rumit seperti ukuran benda-benda.

Pada usia 21-23 bulan, anak Anda akan mengerti siapa yang ia lihat di cermin. Sebelumnya, ia melihat bayangan di cermin sebagai orang yang berbeda. Ia akan mengenali pula foto-foto terbaru dari dirinya. Ia sekarang memiliki perasaan dan mulai bisa berempati. Namun ia masih belum mengerti bahwa perilakunya bisa berdampak bagi dirinya atau orang lain. Misalnya, kalau ia memukul Anda dan ia tidak merasa sakit, ia tidak mengerti kenapa Anda kesakitan. Kesadaran dirinya sebagai orang yang mandiri dengan keinginan-keinginannya sendiri kadang bisa menjengkelkan. Meski waktu-waktu seperti ini menyulitkan, Anda perlu ingat bahwa perilaku anak Anda sangatlah natural. Ajari ia dengan sabar dan lambat laun ia akan mengerti bahwa orang lain juga memiliki perasaan.

Pregnant woman and family

Kerjasama Ayah dan Ibu dalam Pengasuhan

Usia 0-1 tahun

Peran Ibu:

  • Merawat: menyusui, memberi makan (saat sudah tiba diberi MPASI), memandikan, menggendong, menjaganya saat tidur, dll.
  • Menjaga kesehatan anak
  • Memperhatikan kebutuhan nutrisi anak sesuai dengan perkembangan fisik dan kognitifnya
  • Memberi stimulus untuk perkembangan sensorimotorik: memberi sejumlah perangsangan, misalnya bermain cilukba
  • Menyediakan sarana untuk perkembangan motorik agar memungkinkan bagi anak leluasa bergerak ketika belajar merangkak, berjalan, dll.
  • Mengajarkan interaksi dengan banyak-banyak berbicara dengan anak disertai dengan kontak mata agar terlatih berkonsentrasi dan memberi perhatian pada lawan bicara
  • Memperkuat kontak batin dengan memperbanyak sentuhan dan belaian

Peran Ayah:

  • Membangun kedekatan emosional dengan anak melalui banyak kontak fisik
  • Membantu ibu merawatnya, sekali-kali mengganti popok, menimang, atau bermain dengan anak
  • Berinteraksi verbal dengan anak untuk meningkatkan kemampuan komunikasinya, sering-sering memanggil dia dengan namanya
  • Membimbing anak ketika belajar berjalan, karena ayah tidak seprotektif ibu pada umumnya, self esteem anak akan terbangun

Usia 1-3 tahun

Peran Ibu:

  • Menjaga lingkungan yang dieksplorasi anak agar tetap aman dan bersih
  • Tidak banyak menyerukan ungkapan kekhawatiran:”awas jatuh,!”, “aduh nanti bajunya kotor…”. dll karena anak seringkali kaget dengan seruan-seruan yang tiba-tiba
  • Memberi stimulasi kognitif dengan mengenalkan konsep dasar warna, bentuk, ukuran, dan kosakata
  • Semakin sering mengajak anak bicara dan bercerita
  • Mengenalkan emosi pada anak agar ia mengerti bahwa menangis itu karena sedih, tertawa jika senang, dll, anak dapat melampiaskan emosinya dengan tepat
  • Melatih kemandirian perlahan-lahan dengan membiarkan anak melakukan beberapa hal sendiri

Peran Ayah:

  • Memberi motivasi pada anak untuk mengeksplorasi lingkungan, misalnya saat dia jatuh berilah ungkapan-ungkapan yang membesarkan hatinya
  • Menjadi pelindung bagi anak
  • Mengembangkan kemampuan komunikasi anak, kognitif dan kemandiriannya bersama ibu.

Usia 3-5 tahun

Peran Ibu:

  • Meningkatkan aktivitas anak menjadi lebih kompleks, misalnya bermain sepeda
  • Meningkatkan aktivitas yang melatih aspek motorik halusnya
  • Membacakan cerita yang alurnya lebih panjang dan mendengarkan anak bercerita; sering bertanya jawab dengan anak
  • Membimbing anak untuk lebih mengenal alam dan lingkungan
  • Memberi lebih banyak kesempatan untuk mandiri
  • Memberi ruang bagi anak untuk berinteraksi dengan kawan sebayanya
  • Meladeni pertanyaan-pertanyaannya dengan sabar

Peran Ayah:

  • Menemani anak beraktivitas seperti bermain sepeda
  • Memberi motivasi untuk terus belajar
  • Mengajarkan konsep bilangan dan ukuran dengan sarana yang konkrit
  • Mengajarkan konsep berbagi dengan kawannya
  • Mengenalkan emosi dan mengekspresikannya; misalnya memberi pengertian pada anak bila ia terpengaruh lingkungan mengatakan kata-kata yang tidak baik
  • Menjawab pertanyaan anak atau membantunya mencari jawaban ata pertanyaan-pertanyaan tadi bila tidak tahu jawabannya

Usia 6-9 tahun

Peran Ibu:

  • Mendampingi dan menjadi pengajar yang baik bagi anak
  • Memilihkan sekolah yang baik bagi anak bila memutuskan untuk memberikan bimbingan akademik melalui sekolah umum
  • Tetap melatih kemandirian dengan melatihnya mengatasi beberapa masalah sendiri, termasuk yang terkait dengan persoalan akademik
  • Lebih intens mendekatkannya dengan buku agar menjadi gemar membaca
  • Mengenalkan kebiasaan hidup hemat, menabung, dan mengatur keuangannya

Peran Ayah:

  • Melibatkan anak dalam beberapa aktivitas ayah misalnya ketika membongkar mesin-mesin atau kendaraan
  • Berbagi wawasan yang menarik dengan anak
  • Mengajak si kecil berolahraga dan membiasakannya dalam kehidupan harian
  • Mengajari cara bersosialisasi dengan baik, misalnya bagaimana bersikap pada kawan yang usil
  • Mengajarkan cara membela diri juga waktu untuk mengalah

Usia 9-12 tahun

Peran ibu:

  • Menempatkan diri sebagai sahabat anak selain sebagai pendidiknya
  • Bersiap-siap mendampingi anak menghadapi masa pubertas; terutama dengan anak perempuan, misalnya menjelaskan gejala menstruasi, menjaga kebersihan, juga mengatasi gejala-gejala serta-nya
  • Menjelaskan pada anak terkait tanggung jawab yang harus ditanggungnya memasuki masa dewasa
  • Tetap mengasah kemampuan anak

Peran Ayah:

  • Menjadi sahabat yang baik bagi anak
  • Bersiap mendampingi anak menghadapi masa pubertas terutama pada anak laki-laki; menjelaskan tentang mimpi basah, dll.
  • Bertindak tegas dan toleran pada tempatnya
  • Mendampingi anak lelaki dalam aktivitas-aktivitas fisik seperti olahraga untuk menyalurkan energinya

Disarikan dari: Excellent Parenting: Mejadi Orangtua ala Rasulullah. Indra Kusumah, S.Psi dan Vindhy Fitrianti, S.Psi

Hulbah atau Fenugreek Melancarkan ASI

Assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh. Mau share sedikit tentang pengalaman saya memakai Hulbah/Fenugreek, mudah-mudahan bermanfaat untuk yang lain.

Sudah sekitar 6 bulan terakhir saya dan suami mencoba untuk menggeluti bisnis baru yang cukup menarik, yaitu berbisnis herbal dengan membuka toko sebuah online yang khusus untuk berjualan produk kesehatan herbal.  Sejauh ini alhamdulillaah, responnya cukup menggembirakan. Selain mendapat kepercayaan untuk mensuplai persediaan herbal di Galenia, penjualan online melaui website ahli herbal  dan Facebook sedikit banyak membantu perekonomian keluarga kecil kami.

Dalam 6 bulan perjalanan ini, saya sebagai seller produk herbal mendapat banyak pengalaman dan ilmu baru tentang berbagai tanaman yang ada di sekitar kita yang ternyata banyak memberi manfaat untuk kehidupan, akan tetapi jarang diketahui oleh masyarakat. Salah satunya adalah herbal hulbah/fenugreek, yang ternyata memiliki banyak manfaat untuk kita-kita kaum Ibu, terutama bagi para Ibu yang ingin melancarkan produksi ASI (air susu ibu) untuk anak tercinta.

Saya sendiri merasakan dengan mengkonsumsi herbal hulbah/fenugreek produksi ASI menjadi bertambah, menjadi lebih deras mengalir dan lebih banyak dari sebelumnya. Dan ternyata, alhamdulillaah bukan hanya saya saja yang merasakan hal tersebut. Ternyata banyak juga dari para pelangggan produk tersebut yang merasakan hal serupa, bahkan beberapa di antaranya (member Group Facebook ITB Motherhood) melakukan repeat order (pesan berulang kali) dikarenakan merasa mendapat manfaat yang nyata dari herbal hulbah/fenugreek. Ada yang bisa memompa ASIP sampai ½ liter, bisa stop sufor dan kembali ASIX, mudah LDR, dan pengalaman2 lain yang serupa. Tapi ada juga yang ga terlalu merasakan efeknya. Hmmm ya memang tubuh merespon herbal secara berbeda atau mungkin memang masih perlu dioptimasi lagi dosis yang digunakannya… Sepertinya ibu2 dari Farmasi lebih mengerti soal ini.. hehe.

Sedikit Penelitian Ilmiah

Tertarik dengan hal tersebut, pagi ini suami berinisiatif untuk mengetahui lebih lanjut mengenai hulbah/fenugreek dengan mencari info lebih lanjut dari berbagai jurnal ilmiah di internet.

Dan alhamdulillaah, ternyata memang ada beberapa penelitian yang mendukung tentang apa yang saya rasakan secara pribadi ini, beberapa di antaranya saya kutipkan di bawah :

Nama alias : Fenugreek (Trigonella foenum-graecum), hulbah, kelabat, kelabet]

Hasil nemu dari Wikipedia :

Biji klabet dipercaya dapat meningkatkan produksi ASI. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa klabet merupakan stimulator potent untuk produksi ASI yang diperkirakan memiliki kemampuan meningkatkan ASI sebanyak 900%. [ID Wikipedia, id.wikipedia.org/wiki/Kelabat]

Hasil nemu dari Kellymom :

Fenugreek (Trigonella foenum-graecum L.) appears to be the herb that is most often used to increase milk supply. It is an excellent galactagogue, and has been used as such for centuries. In one study of ten women, “the use of fenugreek significantly increased volume of breastmilk” [Swafford 2000]. [KellyMom, kellymom.com/bf/can-i-breastfeed/herbs/fenugreek/]

Terjemah Bebas  : Fenugreek (Trigonella foenum-graecum L.) sepertinya merupakan herbal yang paling banyak dipakai untuk meningkatkan produksi ASI. (Hulbah) merupakan galaktagog yang hebat, dan sudah digunakan untuk hal tersebut selama berabad-abad. Dalam sebuah studi yang dilakukan terhadap 10 wanita, “penggunaan Fenugreek secara signifikan meningkatkan volume ASI”.

Hasil nemu dari US National Institute of Health :

Today, it is used for diabetes and loss of appetite, and to stimulate milk production in breastfeeding women. It is also applied to the skin to treat inflammation. [US National Institutes of Health, nccam.nih.gov/health/fenugreek]
Terjemah  Bebas : Sekarang, fenugreek digunakan untuk (mengobati) diabates dan hilangnya nafsu makan, dan juga untuk menstimulasi produksi susu pada wanita menyusui. Fenugreek juga dipakai pada kulit untuk menangani bengkak.

Hasil nemu dari Livestrong :

Fenugreek can increase a woman’s breast milk supply because it acts as a galactagogue, a substance for increasing milk supply. Kelly Bonyata, International Board-Certified Lactation Consultant (IBCLC), explains that this stimulates the milk ducts and can increase milk production in as little as 24 hours. [Livestrong, livestrong.com/article/417886-how-much-fenugreek-to-take-while-breastfeeding/]

Terjemah Bebas  : Fenugreek dapat meningkatkan suplai ASI karena berperan sebagai galaktagog, sebuah zat yang meningkatkan produksi ASI. Kelly Bonyata, International Board-Certified Lactation Consultant (IBCLC), menjelaskan bahwa fenugreek menstimulasi saluran ASI (kelenjar susu) dan meningkatkan produksi ASI dalam waktu 24 jam.

Demikian beberapa hasil penelitian yang dapat dikumpulkan, mengenai herbal Hulbah/Fenugreek, yang juga dikenal memiliki nama lain sebagai kelabet ini. Wow, ternyata menarik juga beberapa hasil penelitian yang didapatkan oleh suami saya tersebut. Hal ini semakin membuat saya semakin yakin akan manfaat dan khasiat dari herbal yang satu ini. Pengalaman pribadi ditambah hasil penelitian, rasanya sulit untuk saya bantah, hehehe.

Penutup dan Kesimpulan

Demikian mungkin sedikit sharing pengalaman dan hasil penelitian dari saya. Mudah-mudahan dapat bermanfaat untuk teman-teman di ITB Motherhood sekalian. Dengan tidak melupakan golden rule dalam tatalaksana menginduksi keluarnya ASI (tentang latch on, frekuensi penyusuan, relaksasi, makan yang banyak, memperkaya gizi makanan, dll), mudah-mudahan bisa membantu memaksimalkan ikhtiarnya ibu-ibu yang mencari referensi tentang ini.

Sebenarnya ada satu lagi yang ingin saya bahas, yang saya rasa akan sangat bermanfaat untuk para moms sedang dalam kondisi hamil/mengandung. Tapi mungkin lain kali saja lah, satu-satu dulu, hehehe. Salam.

Klappertaart

Resep Klappertaart Wilton
Dapetnya dari www.dapursolia.blogspot.com

Bahan :
1000 cc susu cair
250 gr Gula kastor
50 gr Tepung terigu
50 gr Tepung custard
50 gr Maizena
150 gr Mentega
6 btr Kuning telur; note by Riana: bisa ditambah max 3 btr
2 btr Kelapa muda; note by Shirley: tambah 1-2 butir lagi
100 gr Kenari panggang cincang
Kayu manis bubuk dengan takaran sesuai selera
Pasta Vanilla

Topping:
6 btr Putih telur
4 sdm Gula kastor
2 sdm Tepung terigu
Kismis direndam air hangat, peras
Kayu manis bubuk

Cara membuat:
Lapisan pertama

  • Panaskan 800 cc susu cair dan gula pasir
  • Larutkan tepung terigu, custard dan maizena dengan 200 cc susu cair, pastikan larut sempurna
  • Masukkan campuran susu dan tepung ke dalam susu panas, aduk terus sampai mengental dan meletup-letup.
  • Angkat dari api, masukkan mentega, aduk rata.
  • Masukkan kenari dan kayu manis bubuk dan pasta vanilla
  • Masukkan kuning telur satu persatu
  • Masukkan kerukan daging kelapa muda, aduk rata
  • Masukkan adonan ke dalam cup sampai ¾ tinggi. Bakar dengan cara ditim (au bain marie) selama 15 menit dengan suhu 160° sampai ½ matang.

Topping

  • Kocok putih telur dengan mixer, gula dimasukkan sedikit sedikit sampai kaku
  • Masukkan tepung terigu, aduk rata dengan spatula
  • Semprotkan topping keatas adonan ½ matang sampai cukup tinggi, taburi dengan kismis dan kayu manis bubuk (kerjakan ini dengan cepat karena oven tetap menyala saat topping ditambahkan)
  • Bakar lagi sampai toping berwarna kekuningan.

Beberapa tips dari si saya :
* Pada saat memanaskan susu cair dan gula, pastikan campuran sudah benar-benar panas (ada buih2 di pinggirannya) sebelum memasukan larutan tepung. Kalo belum panas adonannya nanti ga bisa mengental (ini juga hasil browsing2, hehehe)
* Pada saat membuat larutan tepung, pastikan larut sempurna ya, jangan sampai masih ada yang bergerindil, nanti pada saat dipanaskan tambah parah gerindilannya. Caranya? Bisa dengan mengayak tepungnya terlebih dulu atau pada saat sudah jadi larutan, dituangkan dengan menggunakan saringan ke campuran susu panas,  jadi yang gerindil2nya ketahan saringan
* Baking yang pertama ga selalu 15 menit, tergantung suhu oven. Kalo saya kemarin sekitar 25 menit baru saya kasih topping. Diliat aja kalo warna permukaannya sudah sedikit lebih tua dr warna adonan, bisa langsung dikasih topping.
* Baking kedua tergantung juga waktunya, kemarin saya 25 menit juga.

Bikin klappy ini bisa pake pyrex, loyang alumunium foil yang besar atau juga bisa dibikin dalam bentuk cups. Karena ini jenis klappy yang kudu disendokin jadi kalo untuk dijadikan snack dalam sebuah acara lebih baik pake cups.

Untuk Tuhan, Bangsa, & Keluarga